Makna lagu Itil Hideung merupakan kritik sosial yang dibungkus dengan humor vulgar dan bahasa Sunda kasar. Lagu ini tidak dimaksudkan sebagai kisah erotis semata, melainkan sebagai sindiran tajam terhadap perilaku manusia yang mudah tergoda, lalai terhadap tanggung jawab, serta gemar membesar besarkan gosip kampung.
Tokoh utama bernama Ujang digambarkan sebagai sosok laki laki yang menghabiskan waktu di luar rumah dari pagi hingga malam. Ia tidak pulang, mengabaikan istrinya, dan lebih memilih bergaul tanpa tujuan. Ketidakhadirannya kemudian dikaitkan oleh para tetangga dengan dua janda yang diberi julukan ekstrem dan vulgar. Julukan tersebut bukan nama asli, melainkan label hasil gosip yang dilebih lebihkan, mencerminkan budaya lisan masyarakat yang suka menggunjing dan memberi cap berlebihan pada seseorang.
Makna Itil Hideung – Bandung
Makna lagu ini menyoroti bagaimana gosip dapat membentuk persepsi dan bahkan memengaruhi tindakan seseorang. Ujang digambarkan begitu percaya pada cerita yang beredar, sampai ia sendiri terperangkap dalam citra yang dibangun oleh omongan orang lain. Ia larut dalam kesenangan sesaat, hiburan kampung, joget, dan perhatian, hingga melupakan keluarga dan tanggung jawab rumah tangga. Di sisi lain, istrinya digambarkan menunggu dengan kesal, pesan dibaca namun diabaikan, menegaskan dampak nyata dari kelalaian Ujang.
Penggunaan metafora tubuh dan istilah vulgar dalam lagu ini berfungsi sebagai alat satire. Kekasaran bahasa sengaja ditonjolkan untuk memancing tawa sekaligus rasa risih, agar pendengar menyadari absurditas cerita. Lagu ini menunjukkan bagaimana sesuatu yang awalnya hanya julukan bercanda dan bahan gibah bisa berubah menjadi legenda kampung, lalu berujung pada kehancuran citra dan harga diri seseorang. Ujang akhirnya bukan menjadi sosok yang disegani, melainkan bahan lawakan di setiap tongkrongan.
Secara keseluruhan, makna lagu Itil Hideung adalah potret kritik terhadap tiga hal utama. Pertama, kelemahan manusia dalam mengendalikan diri dan godaan. Kedua, budaya gosip yang gemar membesar besarkan cerita tanpa memikirkan dampaknya. Ketiga, kelalaian terhadap keluarga yang berujung penyesalan sosial. Di balik lirik yang kasar dan humor cabul, lagu ini menyampaikan pesan bahwa hidup yang dijalani tanpa tanggung jawab dan kesadaran mudah berubah menjadi bahan ejekan, bukan kebahagiaan sejati.